penkom

Pembuat blog pertama kali adalah Marc Andersen pada tahun 1993



PKM dalam angan

ketika punya ide untuk PKM dan belum bisa mewujudkannya. rasanya itu sedihh bgt. jujur ini bukan murni dri ide saya, tapi ide dari teman satu departemen saya, romanna.

idenya menurut saya bagus, dan saya bersedia menjadi anggota kelompoknya.

kemarin pas ada pendaftaran untuk ikut pelatihan P4 terbesit untuk ikutan, eh tapi ternyata setelah sadar, pendaftaranyya udah di tutup. sedih bukan main.

mimpi untuk lolos pkm sampai pimnas ini belum terwujud. masih bingung harus melangkah dari mana.

namun kita harus segera melangkah dan menciptakan langkah awal untuk menciptakan sejarah berikutnya.

adakah saran untuk saya dan teman saya yang ingin ikut pkm ini ?



REVISI BMI

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Ir. Murdianto, MSi

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 11 Mei 2012

Topik Bahasan          : Revisi

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Nama                          : Raila Adnin (I34110028)

 



PRAKTIKUM BMI 13

Mata Kuliah               : BerfikirdanMenulisIlmiah (KPM 200)

NamaDosen               : Ir. Murdianto, MSi

NamaAsisten              : Tiara AnjaKusuma

HaridanTanggal        : Jumat, 1 Juni 2012

Praktikumke              : 13

TopikBahasan           :Melengkapimakalahakhirdanmenyusunabstrakdan kata  pengantar

NamaKelompok        : Kelompok 7

Nama                          : RailaAdnin (I34110028)

 

ABSTRAK

Studi pustaka ini dibuat untuk mengetahui adanya pengaruh tayangan kekerasan pada televisi  terhadap perilaku agresif remaja dan mengetahui perilaku remaja yang terjadi setelah menyaksikan tayangan kekerasan pada televisi. Hal ini disebabkan banyaknya adegan kekerasan yang tampil dalam tayangan televisi, padahal televisi sudah menjadi kebutuhan masyarakat dalam menyerap informasi dan hiburan. Metodeyang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah metode data sekunder, yaitumengacupada data dansumber yang sudahadatanpaharusmelakukanwawancaraatauterjunlangsungdenganmelakukanpenelitianterhadapmasalah yang ingindikaji. Berdasarkan studi pustaka ini, diketahui bahwa remaja yang semakin sering menonton televisi akan lebih besar kemungkinannya untuk berperilaku agresif. Tayangan kekerasan pada televisi telah membuat kalangan remaja yang menyaksikannya menjadi termotivasi untuk meniru hal serupa. Remaja perempuancenderungmengekspresikanperilakuagresif verbal sepertimengejek, sedangkan remaja laki-lakicenderungmengekspresikanperilakuagresif verbal danperilakuagresiffisik. Hasil studi pustaka ini perlu ditindak lanjuti agar perilaku agresif remaja berkurang dan orangtua dapat meningkatkan perannya dalam mendampingi anak yang sedang menyaksikan tayangan yang berisi adegan kekerasan atau tayangan kekerasan.

Kata kunci: tayangan kekerasan, perilaku agresif, televisi, remaja.

 

 

 

 

 

 

 

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan banyak nikmat, rahmat, dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah akhir mata kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah yang berjudul “Pengaruh Tayangan Kekerasan pada Televisi terhadap Perilaku Agresif Remaja” ini dengan baik. Makalahakhiriniditujukanuntukmemenuhisyaratkelulusan MK BerfikirdanMenulisIlmiahpadaDepartemenSainsKomunikasidanPengembanganMasyarakat, FakultasEkologiManusia,InstitutPertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr. Ir. Ekawati S. Wahyuni, MS sebagai KoordinatormatakuliahBerfikirdanMenulisIlmiah yang telah memberikankoreksi disetiaptahappenyusunanmakalah. Selanjutnya kepadaasisten dosenTiara Anja Kusuma yang bersedia memberinasehat, masukan, kritikmaupun saran yang membangunsehinggamakalahinidapat selesaitepat waktu. Terima kasih juga kepada kedua orangtua penulis yang telah memberikan semangat dan doa yang tak henti dan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.

Penulismenyadaribahwamakalahinimasih memilikikekurangan, makakritik, saran dan masukan yang bersifatmembangunakan penulis terima dengansenanghati demi kesempurnaantulisanini. Semogamakalahinibermanfaatbagipembaca.

 

 

 

Bogor, Mei 2012

 

 

RAILA ADNIN

NIM.I34110028

 



PRAKTIKUM BMI 12

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Ir. Murdianto, MSi

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 25 Mei 2012

Praktikum ke             : 12

Topik Bahasan          :Melanjutkan menulis makalah akhir (Bab Penutup, Daftar                                            Pustaka, dan Lampiran)

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Nama                          : Raila Adnin (I34110028)

 

Simpulan

Dari hasil studi literatur ini dapat disimpulkan bahwa tayangan kekerasan mempengaruhi perilaku agresif remaja. Frekuensi menonton tayangan kekerasan yang sering akan membuat remaja semakin terpacu untuk melakukan tindak kekerasan, karena rasa toleransi remaja memiliki hubungan dengan frekuensi menonton. Perilaku agresif yang cenderung dilakukan oleh remaja setelah menyaksikan tayangan kekerasan adalah mengejek pada teman, memaki pada teman, memukul pada teman, menampar dan menendang pada teman, melempar batu, memukul dengan kayu pada orang lain, dan menusuk pisau pada orang lain.

Jenis kelamin juga mempengaruhi perilaku agresif remaja. Remaja laki-laki yang intensitasnya lebih sering menonton tayangan kekerasan daripada perempuan akan berperilaku lebih agresif. Jika remaja wanita hanya berperilaku agresif verbal seperti mengejek dan menyindir, remaja laki-laki akan berperilaku agresif verbal dan juga agresif fisik.

Saran

            Remaja hendaknya didampingi orang tua atau orang yang lebih dewasa pada saat menyaksikan siaran televisi, terutama tayangan yang mengandung adegan kekerasan. Pihak televisi sebaiknya mengontrol tayangannya agar tidak menampilkan tayangan yang terlalu banyak mengandung adegan kekerasan. Remaja juga sudah seharusnya dapat memilah tayangan yang baik untuk ditonton atau tidak, sehingga dapat mencegah perilaku agresif. Remaja yang sudah terlalu sering melakukan tindakan agresif hendaknya ditangani secara serius oleh pihak keluarga agar tidakan agresif ini berhenti dan tidak berlanjut lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

[DEPDIKBUD] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1997-1998. Peranan media massa lokal bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah sumatera barat. Indonesia. 87 hal.

 

Haryatmoko. 2007. Etika komunikasi. Yogyakarta[ID]:Kanisius. 180 hal.

 

Nando, Pandjaitan NK. 2012. Hubungan antara perilaku menonoton film kekerasan dengan perilaku agresi remaja. Sodality. [Internet]. [Dikutip tanggal 5 Mei 2012]. 06(01):18-35. Dapat diunduh dari: http://jurnalsodality.ipb.ac.id/index.php/component/sodality/?id=125&task=view.

 

Sears DO, Freedman JL, Peplau LA. 1985. Psikologi sosial. Jakarta[ID]:Erlangga. 263 hal.

Tumengkol I. [Tidak ada tahun]. Tayangan kekerasan di televisi dan perilaku pelajar. Jurnal penelitian komunikasi dan pembangunan. [Internet]. [Dikutip 22 april 2012]. 10(01):151-160. Dapat diunduh dari: http://findyourpdf.com/Jurnal-Penelitian-Komunikasi-dan-Pembangunan.

Valentine V. 2009. Efek berita kriminal terhadap perilaku khalayak remaja(kasus SMP Tamansiswa, Jakarta Pusat). [Skripsi]. [Internet]. [dikutip 1 Mei 2012]. [Institut Pertanian Bogor]. Dapat diunduh dari: http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12489/I09vvh_abstract.ps?sequence=4.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

 

Tingkat menyukai tayangan kekerasan

 

Tanggapan

F

%

1.

Sangat Suka

21

23,3

2.

Suka

51

55,8

3.

Tidak Suka

15

16,3

4.

Sangat Tidak Suka

5

4,6

Jumlah

92

100

 

Frekuensi Menonton Tayangan Kekerasan

No

Frekuensi Kekerasan

F

%

1.

Sangat Sering

2

2,3

2.

Sering

39

41,9

3.

Jarang

51

55,8

4.

Tidak Pernah

Jumlah

92

100

 

Tanggapan Pelajar Terhadap Tayangan Kekerasan

No

Tanggapan

F

%

1.

Sangat Perlu

2.

Perlu

28

30,2

3.

Tidak Perlu

56

60,5

4.

Sangat Tidak Perlu

8

9,3

Jumlah

92

100

 

 



PRAKTIKUM BMI 11

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Ir. Murdianto, MSi

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 18 Mei 2012

Praktikum ke             : 11

Topik Bahasan          : Melanjutkan penulisan makalah akhir (subbab berikutnya)

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Nama                          : Raila Adnin (I34110028)

 

  1. Perilaku agresif remaja

 

  1. Definisi perilaku agresif remaja

Remaja merupakan fase setelah masa kanak-kanak. ‘Masa remaja menunjukkan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batas umurnya tidak dirinci dengan jelas, tetapi secara kasar berkisar antara umur 12 sampai akhir belasan tahun, ketika pertumbuhan’ (Atkinson dkk 1983 dikutip Virgin Valentine 2009). Remaja memiliki emosi yang cukup tidak stabil, karena pada masa ini mereka masih mencari jati diri dan cenderung untuk bertindak sesuai dengan apa yang dilihatnya. Menurut David O. Sears, Jonathan L. Freedman dan L.Anne Peplau (1985) agresif memiliki makna perilaku yang melukai orang lain. Sedangkan menurut Scheneiders, agresi merupakan luapan emosi sebagai reaksi terhadap kegagalan individu yang ditampakkan dalam bentuk pengrusakan terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal) dan perilaku non verbal (Scheneiders 1955). Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif remaja adalah perilaku kekerasan yang dapat berupa luapan emosi yang terjadi pada remaja.

 

  1. Penjelasan perilaku agresif remaja

Perilaku agresif bisa terjadi di berbagai jenjang usia. Tak hanya remaja, anak-anak orang tua pun dapat berperilaku agresif. Namun, remaja merupakan objek utama dalam pembuatan makalah kali ini. Menurut Koeswara (1998) dalam  Nando dan Nurmala K. Pandjaitan (2012), faktor penyebab remaja berperilaku Agresi bermacam-macam, sehingga dapat dikelompokkan menjadi faktor sosial, faktor lingkungan, faktor situasional, faktor hormon, alkohol, obat-obatan (faktor yang berasal dari luar individu ) dan sifat kepribadian (faktor-faktor yang berasal dari dalam individu).

Menurut Deaux (Priliantini, 2008), ada dua jenis perilaku agresi yaitu:

 

a. Agresi secara fisik

Agresi fisik meliputi tingkah laku seperti memukul teman, menarik baju teman dengan kasar, meninju teman, menyikut teman, melempar teman dengan benda, berkelahi, merusak barang milik teman, mengganggu teman, mengancam teman dengan mengacungkan tinju, membuang barang milik teman, mencakar teman, memaksa teman memenuhi keinginannya, melukai diri sendiri.

b. Agresi secara verbal

Agresi verbal meliputi tingkah laku seperti mengejek teman, menghina teman, mengeluarkan kata-kata kotor, bertengkar mulut, menakut-nakuti teman, memanggil teman dengan nada kasar, mengancam dengan kata-kata mengkritik, menyalahkan, dan menertawakan.

Perilaku agresif merupakan perilaku yang seharusnya tidak dilakukan kerana perilaku tersebut dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Perilaku ini meresahkan dan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Pada akhirnya seseorang yang berprilaku agresif akan dikenal sebagai ‘pembully’.

 

  1. Hubungan antara tayangan kekerasan pada televisi dengan perilaku agresif remaja

Perilaku agresif remaja memiliki keterkaitan dengan tayangan kekerasan pada televisi. Menurut David O. Sears, Jonathan LF, dan LA Peplau (1985) berbagai teori psikologi sosial menyatakan bahwa kekerasan di televisi atau dalam film dapat meningkatkan agresi penontonnya. Teori imitasi Bandura, misalnya, menyatakan bahwa kekerasan itu akan menyebabkan para penonton melakukan agresi imitatif. Teori belajar yang lain menyatakan bahwa kekerasan media memberikan isyarat yang memicu timbulnya kebiasaan respons agresif penontonnya.

 

  1. Pengaruh tayangan kekerasan televisi terhadap perilaku agresif remaja

Frekuensi menonton dapat mempengaruhi perilaku agresif remaja, menurut Virgin Valentine H, secara spesifik ada hubungan nyata frekuensi menonton dengan toleransi akan tindak kekerasan (Virgin Valentine H. 2009). Seorang remaja yang sedikit menonton akan semakin besar rasa toleransinya untuk tidak melakukan tindak kekerasan. Tindak kekerasan yang dimaksud dalam makalah ini adalah perilaku agresif remaja. Remaja yang semakin sering menonton televisi akan lebih besar kemungkinannya untuk berprilaku agresif.

Remaja yang menonton tayangan kekerasan dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya terbagi menjadi dua, yakni laki-laki dan perempuan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nando dan Nurmala K. Panjaitan disebutkan bahwa jenis kelamin tersebut, mempengaruhi intensitas berprilaku agresif. ‘Pada penelitian dapat dilihat bahwa responden laki-laki memiliki perilaku agresi dengan intesitas yang lebih tinggi daripada responden perempuan. Responden perempuan cenderung mengekspresikan perilaku agresi verbal seperti mengejek. Responden laki-laki cenderung mengekspresikan perilaku agresi verbal dan perilaku agresi fisik’ (Nando dan Nurmala K. Panjaitan 2012).

 

  1. Perilaku remaja yang terjadi setelah menyaksikan tayangan kekerasan pada televisi.

Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ida Tumengkol (tidak ada tahun) menyebutkan bahwa meski menyukai, namun pada umumnya pelajar berpendapat tayangan kekerasan tidak perlu (60,5%) dan 9,3% sangat tidak perlu. Namun ada 30,2% yang menyatakan perlu. Berikut adalah tabel yang menunjukkan tanggapan pelajar yang juga remaja terhadap tayangan kekerasan dalam televisi. Tanggapan remaja yang juga selaku pelajar ini secara tidak langsung menggambarkan adanya motivasi remaja tersebut untuk menyaksikan tayangan kekerasan. Hal tersebut, dapat dilihat dari remaja tersebut dapat memberi tanggapan perlu atau tidaknya tayangan kekerasan untuk disaksikan.

Motivasi melakukan perilaku kekerasan agresif seperti memukul, mencubit dan menampar dilakukan oleh remaja pelajar dikarenakan premaja tersebut gemar menonton tayangan kekerasan. ‘Sebanyak 13,9% mengaku perilaku kekerasan yang dilakukannya termotivasi oleh tayangan televisi, meski jumlah yang tidak termotivasi masih jauh lebih besar (60,5%) dan yang sangat tidak termotivasi 18,6%’ (Ida Tumengkol [tidak ada tahun]).

Perilaku yang cenderung dilakukan setelah menonton tayangan kekerasan menurut Nando dan Nurmala K. Panjaitan adalah melakukan perilaku agresi mengejek pada teman (83,3 persen), memaki pada teman (33,3 persen), memukul pada teman (46,7 persen), menampar dan menendang pada teman (20 persen) sedangkan melempar batu dan memukul dengan kayu pada orang lain (30 persen) lalu menusuk pisau pada orang lain (6,7 persen) (Nando dan Nurmala K. Panjaitan 2012).

““““““



PRAKTIKUM BMI 10

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Ir. Murdianto, MSi

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 11 Mei 2012

Praktikum ke             : 10

Topik Bahasan          : Melanjutkan penulisan makalah akhir (subbab berikutnya)

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Nama                          : Raila Adnin (I34110028)

 

  1. I.                   Media massa

Media komunikasi massa merupakan kepanjangan dari media massa. Menurut (Andre A. Harjana 1996), media massa sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan secara serentak kepada khalayak banyak yang berbeda-beda tersebar di berbagai tempat’ (DPDK 1998:3). Media massa terbagi menjadi dua yaitu media cetak dan media elektronik. Media cetak terdiri dari majalah, koran, jurnal, dan lain-lain. Sementara media elektronik terdiri dari televisi, radio, dan internet.

 

  1. A.    Definisi media televisi

Televisi merupakan media elektronik selain radio dan internet. Menurut (Suangga, 2004) televisi dianggap sebagai kotak ajaib yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia saat ini, menawarkan kenikmatan yaitu mendapatkan hiburan dan informasi, tetapi televisi juga memberikan kehancuran atau kerusakan yang sangat fatal pada berbagai segi kehidupan manusia, yaitu berubahnya nilai-nilai sosial masyarakat, moral, etika, dan sebagainya. Selain itu, televisi memiliki posisi yang penting dalam kehidupan manusia apabila benar-benar di manfaatkan sebagaimana seharusnya. Televisi menawarkan berbagai alternatif, sehingga dapat memilih informasi yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan. Dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu, pendidikan, pengetahuan, dan sebagainya.1

  1. B.     Jenis tayangan media televisi

Televisi berfungsi sebagai media informasi yang ampuh untuk menyampaikan pesan dan memiliki banyak jenis tayangan. Tayangan televisi terdiri dari berita, program olahraga, hiburan, mode, selebriti dan film. Film sendiri memiliki banyak jenis. Jenis-jenis film menurut Sumarno (1996)2, yaitu:

 

 

1.Virgin Valentine H. 2009. Efek Berita Kriminal Terhadap Perilaku Khalayak Remaja (Kasus SMP Taman Siswa, Jakarta Pusat). hal. 24.

2. Nando  dan Nurmala K. Pandjaitan. 2012. Hubungan Antara Perilaku Menonton Film Kekerasan Dengan Perilaku Agresif Remaja The Behavior of Adolescents in Watching Violent Films. Hal.19

  1. Film cerita

Film cerita memiliki perbagai jenis atau genre. Dalam hal ini. genre diartikan sebagai jenis film yang ditandai oleh gaya. bentuk atau isi tertentu. Ada yang disebut film drama, film horror, film perang. film sejarah, film fiksi-ilmiah, film komedi film laga, film khayalan dan film koboi. Penggolonggan jenis film tidaklah ketat karena sebuah film dapat dimasukkan ke dalam beberapa jenis.

Misalnya sebuah film komedi-laga, dan film drama-sejarah. Jenis-jenis film cerita itu agar tetap bertahan hidup harus tanggap terhadap perkembangan jaman. Jadi, cerita adalah bungkus atau kemasan yang memungkinkan pembuat film melahirkan realitas rekaan yang merupakan suatu alternatif dari realitas nyata bagi penikmatnya. Dari segi komunikasi, ide atau pesan yang dibungkus oleh cerita itu merupakan pendekatan yang bersifat membujuk (persuasive).

  1. Film noncerita

Film cerita memiliki berbagai jenis, demikian pula yang tergolong pada film noncerita. Namun, pada mulanya hanya ada dua tipe film noncerita ini, yakni yang termasuk daiam film dokumenter dan film faktual. Film faktual umumnya hanya menampilkan fakta dan kamera sekadar merekam peristiwa. Film faktual ini di zaman sekarang tetap hadir dalam bentuk sebagai film berita dan film dokumentasi. Film berita menitikberatkan pada segi pemberitaan suatu kejadian aktual, misalnya film berita yang banyak terdapat dalam siaran televisi. Sementara itu, film dokumentasi hanya merekam kejadian tanpa diolah lagi, misalnya dokumentasi peristiwa perang, dan dokumentasi upacara kenegaraan.

  1. Film eksperimental dan film animasi

Selain pembagian besar film cerita dan noncerita masih ada cabang pembuatan film yang disebut film eksperimental dan film animasi. Film eksperimental adalah film yang tidak dibuat dengan kaidah-kaidah pembuatan film yang lazim. Tujuannya untuk mengadakan eksperimental dan mencari cara-cara pengucapan baru lewat film. Sementara itu, film animasi memanfaatkan gambar maupun benda-benda mati yang lain, seperti boneka, Meja, dan kursi yang bisa dihidupkan dengan teknik animasi. Prinsip teknik animasi sama dengan pcmbuatan film dengan subjek yang hidup, yang memerlukan dua puluh empat gambar perdetik untuk menciptakan ilusi gerak. Sedikit banyaknya gambar perdetik itu menentukan kasar dan halus pada ilusi gerak yang tercipta. Film animasi dengan materi rentetan lukisan di kertas yang kemudian lebih dikenai dengan sebutan film kartun yang terbanyak diproduksi di mana-mana.

Penelitian ini membatasi tema film yang akan diteliti, yakni film kekerasan. Film kekerasan adalah film yang berisi banyak adegan kekerasan (baik itu kekerasan verbal, fisik, dan kekerasan yang menggunakan intrumental) sebagai temanya. Jenis film kekerasan yang sering ditonton berupa film cerita. Film cerita ini mempunyai banyak genre.

Genre film kekerasan yang sering ditonton bermacam-macam dan tidak hanya terdiri satu genre saja, dapat terdiri dari dua sampai tiga genre. Genre film kekerasan yang sering ditonton2, yakni:

2 Tim Dirks: Filmsite, 20 Januari 2011, http://www.filmsite.org/filmgenres.html

  1. Film action/laga

Film action/laga biasanya memerlukan anggaran besar dengan adegan mengejar, menyelamatkan, pertempuran, perkelahian, melarikan diri, gerakan spektakuler dan petualangan untuk membuat penonton terkagum.

  1. Film perang

Film yang berupa pertarungan yang sebenarnya berperang melawan bangsa-bangsa atau manusia di darat, di laut, atau di udara dengan memberikan latar belakang film action/laga. Perang film sering dipasangkan dengan genre lain, seperti action/laga, petualangan, drama, romantika, ketegangan, dan mereka sering mengambil pendekatan ke arah peperangan.

  1. Film horor

Film Horor dirancang untuk menakut-nakuti dengan bersembunyi dan seringkali dalam kejutan yang menakutkan tetapi menghibur kita pada saat yang sama. Film Horor menampilkan berbagai macam gaya dari yang klasik seperti monster dan manusia gila. Mereka sering digabungkan dengan fiksi ilmiah seperti ketika bumi terancam oleh alien. Ada banyak sub-genre horor yaitu teror remaja, pembunuh berantai, setan, drakula, frankenstein.

  1. Film kungfu/silat

Film yang berisi adegan perkelahian antara satu orang atau lebih dengan memamerkan seni bela diri.

  1. Film thriller

Sebuah genre film yang mengunakan ketegangan dan kegembiraan sebagai elemen utama dalam temanya.

  1. Film detektif-misteri

Film yang berfokus pada tindak pidana/kejahatan yang belum terpecahkan (biasanya pembunuhan, hilangnya satu atau lebih karakter dalam film, atau pencurian). Pada karakter utama yakni detektif dianggap pahlawan, dia memecahkan solusi dari sebuah kasus kejahatan.

  1. Film kriminalitas

Film kriminalitas (gangster) dikembangkan berdasarkan tindakan-tindakan kejahatan dari penjahat atau mafia, khususnya perampokan bank atau penjahat kejam yang beroperasi di luar hukum, mencuri dan membunuh sebagai jalan mereka menempuh kehidupan. Kategori ini pada umumnya berisi penjelasan tentang berbagai film pembunuh berantai.

 

  1. C.    Tayangan kekerasan

Kekerasan merupakan tindakan yang tidak pantas dilakukan jika tidak memiliki alasan yang kuat dan jelas. Menurut P. Lardellier ‘kekerasan bisa di definisikan sebagai prinsip tindakan yang mendasarkan diri pada kekuatan untuk memaksa pihak lain tanpa persetujuan’ (Haryatmoko 2007). Dalam kekerasan terkandung unsur dominasi terhadap pihak lain dalam berbagai bentuknya: fisik, verbal, moral, psikologis, atau melalui media gambar. Penggunaan kekuatan, manipulasi, fitnah, pemberitaan yang tidak benar, pengkondisian yang merugikan, kata-kata yang memojokkan, dan penghinaan merupakan ungkapan nyata kekerasan.3

Bentuk adegan kekerasan ini tanpa disadari telah banyak ditampilkan dalam tayangan televisi. ‘Kekerasan dalam film, fiksi, siaran, dan iklan menjadi bagian dari industri budaya yang tujuan utamanya ialah mengejar rating program tinggi dan sukses pasar. Program yang berisi kekerasan sangat jarang mempertimbangkan aspek pendidikan, etis, dan efek traumatisme penonton’ (Haryatmoko 2007).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Dr. Haryatmoko.2007. Etika Komunikasi. hal.120

 



PRAKTIKUM BMI 9

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Ir. Murdianto, MSi

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 4 Mei 2012

Praktikum ke             : 9

Topik Bahasan          : Menyusun pendahuluan

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Nama                          : Raila Adnin (I34110028)

 

Tugas Individu

  1. Topik tulisan :

Pengaruh Media Televisi Terhadap Opini Masyarakat

 

  1. Judul :

Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Opini Masyarakat yang Muncul

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Media televisi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Di setiap rumah mayoritas terdapat televisi, baik di daerah perkotaan maupun di pelosok. Bahkan, ada sebagian rumah yang selalu ‘menyalakan’ televisinya. Media televisi sudah menjadi kebutuhan sehingga dapat mempengaruhi opini masyarakat. Jhon Naisbit mengungkapkan bahwa ada sepuluh pertanda zaman yang kini merubah hidup dan kehidupan masyarakat, dari kesepuluh pertanda tersebut yang pertama kali adalah information society atau masyarakat informasi.

Disadari atau tidak, peran atau pengaruh dalam membentuk opini terhadap suatu permasalahan yang diinformasikan itu ada dalam diri masyarakat. Hal yang menarik untuk ditelusuri adalah bahwa media televisi sebagai penayang berita, informasi, hiburan, dan pendidikan mampu membentuk opini atau sikap masyarakat. Pembangunan di bidang teknologi informasi-media massa sangat berkaitan erat dengan aspek kehidupan masyarakat yang dipengaruhi oleh opini yang sudah terlebih dahulu terbentuk. Wawasan yang diperoleh, pengetahuan, tayangan televisi, tanggapan terhadap figur, dan tingkah laku yang diikuti merupakan hasil dari opini yang terbangun pada masyarakat.

Dari uraian yang disampaikan di atas, dalam penelitian ini dirumuskan hal yang menjadi masalah, yakni bagaimana pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat ? dan apa saja opini masyarakat tentang tayangan media televisi ? Dari kedua permasalahan tersebut, tujuan makalah ini kemudian terbentuk. Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat dan opini masyarakat tentang tayangan media televisi. Baik dari segi wawasan, pengetahuan, tayangan televisi, tanggapan terhadap figur, tingkah laku yang diikuti dan sebagainya.

 



PRAKTIKUM BMI 8

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Ir. Murdianto, MSi

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 27 April 2012

Praktikum ke             : 8

Topik Bahasan          : Menyusun thesis utama dan tinjauan pustaka

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Nama                          : Raila Adnin (I34110028)

 

Tugas Individu

  1. Topik tulisan :

Pengaruh Media Televisi Terhadap Opini Masyarakat

 

  1. Judul : Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Opini Masyarakat yang Muncul

 

  1. Thesis : Tayangan televisi yang bersifat positif akan mempengaruhi opini positif dari masyarakat, begitu pula sebaliknya.

 

  1. Outline topik:

Judul: Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Opini Masyarakat yang Muncul

Thesis: Tayangan televisi yang bersifat positif akan mempengaruhi opini positif dari masyarakat, begitu pula sebaliknya.

  1. Pendahuluan

Alasan yang melatarbelakangi topik pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat.

  1. Program tayangan televisi
  2. Opini yang terbentuk pada masyarakat
  3. Media Televisi
    1. Definisi media televisi
    2. Fungsi media televisi
  4. Opini Masyarakat
    1. Definisi opini masyarakat
    2. Ciri opini masyarakat
  5. Hubungan antara media televisi dan opini masyarakat
  6. Kesimpulan dan Saran
    1. Opini masyarakat dipengaruhi oleh media televisi
    2. Tindak lanjut

 

  1. Sumber teori :
    1. Judul buku: Etika Komunikasi Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi

Penulis: Dr. Haryatmoko

Konsep :

Dalam media, terutama televisi, beroperasi sejumlah mekanisme yang merupakan bentuk kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik adalah kekerasan yang berlangsung dengan persetujuan tersirat dari korbannya sejauh mereka tidak sadar melakukan atau menderitanya (P. Bourdieu,1996:16). Misalnya, berita ringan sehari-hari yang justru menjadi program prioritas media yang menginginkan sensasi. Pada hakikatnya berita ini menarik semua orang, tidak mengagetkan, tanpa ada yang perlu dipertaruhkan, tidak memecah belah, dan lebih membawa ke konsesus. Jadi, berita semacam itu sekaligus menarik semua orang, tetapi tidak menyentuh sesuatu yang penting.

 

  1. Artikel yang akan digunakan:

Sumber: Jurnal Penelitian Komunikasi dan Pembangunan

 

  1. Judul: TAYANGAN KEKERASAN DI TELEVISI DAN PERILAKU PELAJAR

Penulis : Ida Tumengkol

Abstrak :

Penelitian ini mencoba untuk mengetahui tanggapan para pelajar di Kecamatan Medan Tembung atas tayangan kekerasan di televisi swasta nasional dan sejauh mana tayangan tersebut memberikan motivasi bagi pelajar untuk melakukan tindakan kekerasan. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif yaitu dengan melakukan survei ke lapangan untuk mengumpulkan data dalam bentuk kuesioner kepada para pelajar di Kecamatan Medan Tembung.

Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa pada umumnya pelajar (55,8%) suka tayangan televisi yang menampilkan aksi kekerasan. Para pelajar ini pada umumnya juga pernah melakukan kekerasan (65,1%) seperti memukul, mencubit dan menampar. Dan sebanyak 13,9% pelajar mengaku perilaku kekerasan yang dilakukannya termotivasi oleh tayangan televisi .

Apa yang dihasilkan dalam penelitian ini baik untuk ditelaah para pengelola televisi swasta nasional untuk memperhatikan efek dari pesan kekerasan dalam tayangan televisi. Agar tayangan tersebut lebih dibatasi untuk kepentingan pendidikan anak bangsa secara berkelanjutan.

Kata kunci: kekerasan, perilaku

 

  1. Judul: Figur Susilo Bambang Yudhoyono Di TV ONE dan Minat Memilih Presiden Tahun 2009 (Kajian Pengaruh Figur Susilo Bambang Yudhoyono di Media TV One Terhadap Minat Memilih di Kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009)

Penulis: Fauziah Dongoran

Abstraksi:

Penelitian ini berjudul Figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One Dan Minat Memilih Presoden Tahun 2009 ( Kajian Pengaruh Susilo Bambang Yudhoyono di Media TV One Terhadap Minat Memilih di Kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009. Penelitian ini bermaksud melihat  popularitas  figur Susilo Bambamng Yudhoyono dalam mempengaruhi minat memilih masyarakat  pada Pemilihan Presiden tahun 2009.

      Latar belakang masalah dalam pemilihan ini adalah ; bahwa figur Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden RI mengalami peningkatan ketika pemerintahannya menunjukan keseriusan dalam hal pemberantasan korupsi. Kepemimpinannya terkesan tidak tebang pilih dalam upaya penegakan upaya hukum tindak pidana korupsi, yang membuatnya mendapat aspirasi positif dari rakyat Indonesia.Popularitas figur Susilo Bambang Yudoyhono semakin kuat ketika ia mampu menggabungkan dua kelompok masyarakat ; menengah atas dan bawah, melalui flukturasi Bahan Bakart Minyak ( BBM ) dan Pemberian Bantuan Langsung Tunai ( BLT ).Selain itu program Jaminan Kesehatan Masyarakat ( Jamkesmas ).

      Sebagai perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Sejauh manakah figur Susila Bambang Yudhoyono di TV One berpengaruh terhadap minat memilih Presiden dikalangan mahasiswa kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area Kota Medan.Adapun sebagai tujuan dari penelitian ini adalah : untuk mengetahui pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One terhadap minat memilih Presiden pada masyarakat .

      Penelitian ini menggunakan teori Uses And Gratifications yang memiliki teori pendukung Social Categories dan Individual Differewnces Theory. Model teoritis yang duiajukan ,menempatka figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One sebagai Variable bebas ( X ) dan Minat Memilih sebagai variable terikat ( Y ). Adapun variable Anteseden adalah karakteristik responden . Sebagai hipotesis adalah:

Ho : menunjukan terdapatnya hubungan antara variable X dan Y.

Ha : menujukan tidak terdapatnya hubungan antara variable X dan Y.

Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis dalam tabel tunggal dan tabel silang, untuk selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Dengan menggunakan rumus prodiuk momen ( person`s correlations ). Selanjutnya  diketahui r adalah 0,698, sesuai dengan skala Guilford, maka diketahui terdapat hubungan yang signifikan antara  figur SBY di TV One dengn Minat memilih masyarakat, dimana 0,698 berada pada tingkat 0,40-0,70 ; yabg berarti hubungan SBY signifikandengan minaty memilih.

Untuk melihat besarnya kekuatan pengaruh ( KP ) digunakan rumus, KP { rs )2 x 100%, hasilnya= 49%. Hal ini bermakna hubungan figur SBY terhadap minat memilih masyarakat  sebesar 49% atau hanya 49% figur SBY di TV One berpengaruh terhadap minat memili presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area Kota Medan dalam PilPres tahun 2009.   

 

 

  1. Judul: PERAN MEDIA DALAM PEMBENTUKAN OPINI MASYARAKAT DI WILAYAH PERBATASAN MENGENAI JATI DIRI BANGSA INDONESIA[1]

Penulis : Amiruddin Z.

Abstrak:

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran media dalam pembentukan opini masyarakat di wilayah perbatasan mengenai jati diri Bangsa Indonesia. Lokasi yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah wilayah perbatasan yang menjadi wilayah kerja Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Medan. Penelitian ini bersifat kualitatif yaitu mewawancarai terhadap informan dari berbagai kalangan yang dianggap relevan, metode yang digunakan deskritif analisis. Dari hasil temuan terungkap bahwa wilayah perbatasan masih merupakan daerah tertinggal dari berbagai aspek, termasuk tentang keberadaan dan peran dari media nasional. Sementara dikarenakan media Malaysia lebih jelas dan mudah. Sehingga masyarakat lebih memilih penggunaan media (TV, Radio) dari negara tetangga Malaysia tersebut. Hasil penelitian juga menyimpulkan bahwa jati diri masyarakat di wilayah perbatasan tidaklah luntur, namun wawasan kebangsaan mereka dapat dikatakan menurun, hal tersebut tentu suatu kewajaran disebabkan minimnya mendapatkan penjelasan dan informasi dari tayangan / siaran media nasional.

 

Kata Kunci :  Peran media masyarakat wilayah perbatasan, jati diri.

 

  1. Judul : PENGARUH SIARAN LIPUTAN 6 SCTV TERHADAP OPINI MASYARAKAT DI KECAMATAN PADANG HILIR KOTA TEBING TINGGI

Penulis : Drs. Hamdan Hamidin*

ABSTRAKSI:

Penelitian ini bertujuan           untuk mengetahui dan melihat bagaimana Pengaruh Siaran Liputan 6 SCTV Terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yaitu meneliti bagaimnana pengarus Siaran Liputan 6 SCTV terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Adapun jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dengan menggunakan rumus Taro Yamane. Penetapan menggunakan sampel strata proporsional. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan penyebaran angket dan menghimpun data dari buku-buku serta sumber bacaan  yang relevan dengan masalah penelitian. Dari hasil penelitian menunjukkan  bahwa pengaruh siaran liputan 6 SCTV terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi cukup memuaskan, dan juga siaran Liputan 6 SCTV berpengaruh terhadap Opini Masyarakat  Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi.

 Kata Kunci : Pengaruh Siaran liputan 6 SCTV Terhdap Opini  Masyarakat.

 

  1. Judul: OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN  MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA  (Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)*

Penulis: IDAWATI PANDIA

 Abstrak:

       Penelitian  Opini Publik Mengenai Peran  Media Cetak Lokal  Dalam Pembangunan     Pertanian Hortikultura  ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian, ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura, apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan.

 

Kata–kata Kunci : Opini Publik,Media Lokal Pertanian, Hortikultura.

 

 



 

* Penulis adalah Peneliti Muda Bidang Komunikasi Pada BBPPKI Medan

* Telah diseminarkan di Siantar Hotel, Pematang Siantar, Tgl. 10 Juli 2008



PRAKTIKUM BMI 7

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Ir. Martua Sihaloho, MSi

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 20 April 2012

Praktikum ke             : 7 (Revisi)

Topik Bahasan          : Menentukan tujuan tulisan, thesis utama, dan outline

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Nama                          : Raila Adnin (I34110028)

 

Tugas Individu

  1. 1.      A. Topik:

Pengaruh Media Televisi Terhadap Opini Masyarakat

 

B. Rumusan Masalah:

  1. Bagaimana pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat ?
  2. Apa saja opini masyarakat tentang tayangan media televisi ?

 

  1. 2.  Tujuan Tulisan Ilmiah:

Untuk mengetahui pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat dan opini masyarakat tentang tayangan media televisi. Baik dari segi wawasan, pengetahuan, tayangan televisi, tanggapan terhadap figur, tingkah laku yang diikuti dan sebagainya.

 

  1. 3.    Thesis :

Tayangan televisi yang bersifat positif akan mempengaruhi opini positif dari masyarakat, begitu pula sebaliknya.

 

  1. 4.    Menyusun Outline

 

  1. Outline topik

Judul : Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Opini Masyarakat yang Muncul

Thesis :Tayangan televisi yang bersifat positif akan mempengaruhi opini positif dari masyarakat, begitu pula sebaliknya.

 

  1. Pendahuluan

Alasan yang melatarbelakangi topik pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat.

  1. Program tayangan televisi
  2. Opini yang terbentuk pada masyarakat

 

  1. Media Televisi
    1. Definisi media televisi
    2. Fungsi media televisi

 

  1. Opini Masyarakat
    1. Definisi opini masyarakat
    2. Ciri opini masyarakat

 

  1. Hubungan antara media televisi dan opini masyarakat
  2. Kesimpulan dan Saran
    1. Opini masyarakat dipengaruhi oleh media televisi
    2. Tindak lanjut

 

  1. Outline kalimat

Judul : Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Opini Masyarakat yang Muncul

Thesis :Tayangan televisi yang bersifat positif akan mempengaruhi opini positif dari masyarakat, begitu pula sebaliknya.

 

  1. Pendahuluan

Pada bab pendahuluan ini, saya akan memberikan alasan yang melatarbelakangi mengenai  topik yang saya bahas yaitu pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat.

  1. Program tayangan televisi akan dibahas agar pembaca mengetahui jenis-jenis tayangan yang ada di televisi.
  2. Selanjutnya akan di bahas opini yang terbentuk pada masyarakat setelah menonton tayangan televisi tersebut.

 

  1. Media Televisi akan saya bahas pada bab kedua, materi yang berkaitan dengan media televisi tersebut adalah :
    1. Definisi mengenai media televisi
    2. Fungsi media televisi penting diketahui agar pembaca  mengetahui fungsu dari tayangan yang disiarkan.

 

  1. Opini Masyarakat akan di bahas pada bab ketiga, materi yang berkaitan dengan opini  adalah :
    1. Definisi mengenai opini masyarakat
    2. Ciri-ciri opini yang ada pada masyarakat

 

  1. Penulis akan menjelaskan adanya pengaruh hubungan antara media televisi dan opini masyarakat
  2. Pada bab terakhir akan diberikan mengenai kesimpulan dan saran tentang media televisi dan pengaruhnya terhadap opini masyarakat dan tindak lanjut mengenai medi televisi.

 



PRAKTIKUM BMI 6

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Ir. Martua Sihaloho, MSi

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 30 Maret 2012

Praktikum ke             : 6 (Revisi)

Topik Bahasan          : Menentukan Topik, Judul, dan Masalah Tulisan Ilmiah

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Nama                          : Raila Adnin (I34110028)

 

Tugas Individu

  1. A.    Topik Makalah

Pengaruh Media Televisi Terhadap Opini Masyarakat

Proses memilih topik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.     Perumusan Masalah

Media televisi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Di setiap rumah mayoritas ada televisi, baik di daerah perkotaan maupun di pelosok. Bahkan, ada sebagian rumah yang selalu ‘menyalakan’ televisinya. Media televisi sudah menjadi kebutuhan sehingga dapat mempengaruhi opini masyarakat. Berikut ini adalah masalah yang akan di bahas :

  1. Bagaimana pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat ?
  2. Apa saja opini masyarakat tentang tayangan media televisi ?

 

  1. C.    Tujuan Tulisan Ilmiah

Untuk mengetahui pengaruh media televisi terhadap opini masyarakat dan opini masyarakat tentang tayangan media televisi. Baik dari segi wawasan, pengetahuan, tayangan televisi, tanggapan terhadap figur, tingkah laku yang diikuti dan sebagainya.

 

  1. D.    Judul Makalah

Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Opini Masyarakat yang Muncul

 

 

 



PRAKTIKUM BMI KE 5

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Dr. Ir. Pudji Mulyono

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 23 Maret 2012

Praktikum ke             : 5

Topik Bahasan          : Tulisan Ilmiah dan Bukan Ilmiah

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Anggota Kelompok   :           1. Rielisa A.P.H (134110004)

                                                2. Romanna Tria Debora Aritonang (I34110011)

                                                3. Khalida N. Adilah (I34110009)

                                                4. Fina Fatihur Rizka (I34110014)

                                                5. Qoyyimal Jauziah (I34110025)

                                                6. Raila Adnin (I34110028)

 

Tulisan ilmiah dapat disajikan dalam bahasa yang sangat ketat mengikuti aturan tata bahasa dengan perbendaharaan kata yang kaya, ataupun disajikan dalam bahasa yang longgar dengan perbendaharaan kata yang hanya lazim dipakai dalam komunikasi sehari-hari. Makin “dalam” substansi yang telah disajikan dalam bahasa yang ketat mengikuti aturan tata bahasa dan format yang standar, dengan pembedaharaan kata yang kaya dan lazim digunakan dalam tulisan ilmiah, makin dapat diklasifikasikansebagai tulisan ilmiah non populer. Sementara itu, makin kurang dalam substansi yang disajikan dalam bahasa yang kurang ketat mengikuti aturan tata bahasa dan format yang standar, dengan pembendaharaan kata yang lazim dipakai dalam komunikasi sehari-hari, makin dapat diklasifikasikan dikategorikan sebagai tulisan ilmiah populer.

Sifat kepopuleran tulisan ilmiah, selain ditandai dengan ciri penyajian bahasa yang tertentu, sering juga ditandai dengan cara layout, ilustrasi, dan penggunaan tipe dan ukuran huruf  yang bervariasi.

Substansi ilmiah non populer biasanya terdiri dari bagian atau komponen sebagai berikut:

Ringkasan atau abstrak

Kata pengantar

Daftar isi

Daftar tabel

Daftar gambar

Pendahuluan

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan dan Manfaat

Pendekatan Teoritis

Tinjauan Pustaka

Kerangka Peminkiran

Hipotesis

Definisi Operasional

Metode Penelitian (Pendekatan di Lapangan)

Lokasi Penelitian

Teknik Sampling

Metode Pengumpulan Data

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan

Saran (Rekomendasi)

Daftar Pustaka

Lampiran

 

  1. A.    Skripsi dan Jurnal Ilmiah

Judul Skripsi : Pengaruh Terpaan Tayangan “Jika Aku Menjadi” Terhadap Empati Remaja (Kasus Siswa SMA Negeri 1 Dramaga, Bogor)

Judul Jurnal (Solidality) : Mimbar Sosek

Judul Jurnal (Penyuluhan) : Pemberdayaan untuk meningkatkan kompetensi pejabat struktural kepegawaian pemerintah : kasus di bidang kepegawaian di provinsi DKI Jakarta dan Provinsi DI. Yogyakarta

Judul Artikel : Daun Salam Taklukkan Gula

 

 

B. Perbandingan Struktur dan Isi Tulisan Ilmiah

NO                    BAHAN

KAJIAN

SKRIPSI JURNAL SOLIDALITY JURNAL PENYULUHAN Artikel ilmiah
1 Kata pengantar

ü

2

Daftar Isi

ü

3

Daftar Tabel

ü

ü

4

Daftar Gambar

ü

ü

5

Pendahuluan

ü

ü

ü

6 Pendekatan teoritis

ü

ü

7 Metode penelitian

ü

ü

ü

8 Hasil dan Pembahasan

ü

ü

ü

ü

9 Kesimpulan

ü

ü

ü

10 Saran

ü

11 Daftar pustaka

ü

ü

ü

12 Lampiran

ü

 

 

  1. C.    Perbedaan struktur dan isi tulisan ilmiah populer dan non populer

Setelah dibandingkan dari teori dan data yang telah  kami  peroleh, dapat kami  simpulkan bahwa skripsi lebih ilmiah dari kedua karya ilmiah yang lain yaitu jurnal dan artikel. Substansi yang terdapat di dalam skripsi diantaranya  kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, pendahuluan, pendekatan teoritis, metode penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan, saran, daftar pustaka, dan Lampiran. Substansi yang terdapat di dalam Jurnal solidality antara lain daftar tabel, daftar gambar, pendahuluan, pendekatan  teoritis, metode penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka. Substansi yang terdapat di dalam jurnal penyuluhan diantaranya daftar tabel, pendahuluan, metode penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka. Sedangkan substansi yang terdapat di dalam artikel ilmiah hanya daftar gambar, hasil dan pembahasan.

Dari  tiap-tiap tulisan  bahwa ciri  dari skripsi, jurnal dan artikel ilmiah berbeda. Skripsi memiliki struktur dan substansi yang lebih kompleks dibanding dua tulisan lainnya, yaitu jurnal dan artikel ilmiah. di dalam skripsi, satu bab dapat terdiri dari beberapa subbab. Sedangkan di dalam jurnal, bab bab yang ada hanya mengandung satu subbab saja. Lain halnya dengan artikel ilmiah, tidak ada bab bab tersendiri. Jadi di dalam artikel ilmiah hanya terdapat penjelasan tentang isi.



PRAKTIKUM BMI KE 4

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Dr. Ir. Pudji Mulyono

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 16 Maret 2012

Praktikum ke             : 4

Topik Bahasan          : Hubungan Etika dan Ilmu

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Anggota Kelompok   :           1. Rielisa A.P.H (134110004)

                                                2. Romanna Tria Debora Aritonang (I34110011)

                                                3. Khalida N. Adilah (I34110009)

                                                4. Fina Fatihur Rizka (I34110014)

                                                5. Qoyyimal Jauziah (I34110025)

                                                6. Raila Adnin (I34110028)

Film “Spiderman 2” mungkin bukanlah tontonan yang asing lagi di mata anak-anak zaman sekarang. Mulai dari belahan bumi bagian utara hingga selatan tampaknya telah  menyempatkan diri untuk menonton salah satu judul film yang terpopuler abad ke XX-an ini. Tokoh utama yang menampilkan sosok superhero yang berjuang menaklukkan ilmuwan yang serakah dan menyelewengkan penemuannya dengan kecanggihan teknologi sehingga menimbulkan konflik dan merugikan masyarakat atas penemuannya tersebut seakan menjadi bahan pembelanjaran bagi ilmuwan maupun masyarakat awam untuk mulai mengantisipasi hal itu tidak terjadi di dunia nyata. Penulis di sini tidak akan membahas film ini lebih lanjut, tetapi film ini berkaitan dengan topik yang akan dibahas lebih lanjut oleh penulis. Belajar dari film tersebut tidak tertutup kemungkinan jika peranan ilmuwan yang tadinya positif berubah menjadi negatif karena keinginan pribadi untuk menguasai dunia tampaknya perlu diantisipasi sejak sekarang. Hakikat ilmu yang menjunjung sifat kenetralan menjadikan ilmu bersifat “eksklusif” karena tidak dapat dicampuri oleh bidang ilmu yang lain. Mungkin area privasi dari seorang ilmuwan tidak bisa dicampuri oleh masyrakat awam, tetapi jika tidak dikendalikan maka mungkin kekhawatiran yang dipaparakan sebelumnya dapat terjadi. Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan suatu tatanan nilai penyeimbang sifat kenetralan tersebut yang tersusun dalam asas-asas yang disebut moralitas ilmuwan.

Moralitas ilmuwan adalah sikap dan cara bertindak para ilmuwan dengan berdasarkan  keyakinan pada Tuhan atas segala bentuk penemuannya yang tetap menjunjung harkat dan martabat manusia. Tak dipungkiri kontribusi ilmuwan dalam dunia ini sudah banyak. Mereka yang lebih beruntung dapat memanfaatkan kecerdasan yang dianugrahkan-Nya kepadanya, tampaknya dapat menjadi perpanjangan tangan Sang Pencipta untuk menyelesaikan permasalahan di kehidupan ini. Mulai dari menganilisis permasalahan hingga mendapatkan sebuah kebenaran yang dapat dijadikan sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Bahkan, ilmuwan juga dapat memprediksi apa yang akan terjadi dimasa depan. Sebagai contoh Marshall McLuhan yang mengemukakan pendapatnya bahwa media komunikasi modern memungkinkan jutaan orang-orang di seluruh dunia bisa berhubungan dengan setiap titik yang ada dalam dunia. Pendapat yang awalnya disepelekan ini pun ternyata dibenarkan oleh Leonard Kleinrock (1969) yang berhasil menemukan internet sebagai batu loncatan dari perkembangan teknologi selanjutnya.

Perlu diketahui hal yang sulit dihindari tentang ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kekuasaan. Kedua elemen tersebut saling menguatkan. Saat seseorang berkuasa, ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan memengaruhi segala kebijakannya. Kekuasaan bisa diperankan individu atau institusi, dan kekuasaan bekerja berdasarkan mekanisme kerja ilmu pengetahuan yang dimiliki (http://www.ham.go.id). Dengan bermodalkan pengetahuan yang mereka dapatkan melalui proses belajar dari penemuan para ilmuwan. Tampaknya penguasa lebih beruntung karna dapat berhubungan secara langsung dengan ilmuwan tersebut dan bahkan bisa mengutarakan keinginannya supaya dapat diwujudkan oleh ilmuwan tersebut. Namun keberuntungan ini diselewengkan oleh penguasa tersebut. Sebagai contoh penyelewengan kekuasaan adalah  dalam hal teknologi kloning, bisa saja hasil kloning yang digunakan untuk tumbuhan dan hewan disalahgunakan penguasa untuk membuat manusia kloning, dengan membuat tentara pilihan yang digunakan untuk menghabisi musuh. Pengaruh penguasa terhadap ilmu pengetahuan dapat dikategorikan ke dalam dua cara. Pertama secara melembaga, yaitu tidak adanya kebebasan pendidikan tinggi untuk tanpa dicampuri oleh kekuasaan luar; kedua secara perseorangan, yakni menyangkut kebebasan seseorang untuk belajar, mengajar, dan melaksanakan penelitian serta mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan kegiatan tersebut tanpa ada pembatasan kecuali dari dirinya sendiri ( http://www.mail-archive.com). Namun peran ilmuwan dan kaum intelektual sebagai pengendali dan agen perubahan ternyata juga dikuasai kepentingan kekuasaan. Mereka yang awalnya melontarkan berbagai gagasan kritis akhirnya juga ikut larut menikmati kekuasaan dan mengingkari idealismenya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa posisi kaum ilmuwan dan intelektual rentan dipengaruhi kepentingan penguasa, baik penguasa negara maupun penguasa modal (uang). Tanggung jawab merupakan kewajiban menanggung, menjamin bahwa perbuatan yang dilakukan itu sesuai kodrat (Setiardja, 2005:54). Untuk itulah ilmuwan harus menyesuaikan diri mereka dalam konteks-konteks yang telah disesuaikan dengan pandangan ilmuwan sebelum mempublikasikan penemuannya. Adapun  konteks tersebut dibagi menjadi 2 yaitu ( Keraf dan Dua 2001:154-158):

  1. Context of Discovery adalah menyangkut konteks dimana ilmu pengetahuan ditemukan. Ilmu pengetahuan ditemukan dan berkembang dalam konteks ruang dan waktu tertentu, dalam konteks sosial tertentu. Berdasarkan tinjauan context of discovery dapat dipahami bahwa ilmu tidak bebas nilai. Bahwa ilmu muncul dan berkembang karena desakan dari nilai-nilai tertentu.
  2. Context of justification adalah konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan ilmiah berdasarkan kategori dan kriteria yang munri ilmiah. Dapat disimpulkan bahwa dalam context of justification itu pengetahuan harus bebas nilai. Yang dimaksud dengan harus bebas nilai adalah pengetahuan yang ditemukan tersebut tidak mengacu pada nilai nilai tertenu.

 

Sehingga dalam menemukan dan menerapkan ilmu pengetahuan, para ilmuwan membutuhkan kedua konteks tersebut. Namun penulis menganggap yang lebih dipentingkan dari kedua konteks tersebut adalah Context of Justification karena seorang ilmuwan harus menguji dan meneliti berdasarkan fakta-fakta yang ada. Di dalam penelitian ilmiahnya, seorang ilmuwan harus diberi kebebasan penuh . Hal ini agar seorang ilmuwan dapat bekerja secara maksimal, meskipun terkadang ada hal-hal yang di luar kebiasaan masarakat awam pada umumnya . Walaupun ia nantinya mendapatkan reaksi kontra dari berbagai pihak, tetapi sebagai seorang ilmuwan seharusnya dia tetap kukuh dalam melaksanakan penelitiaannya dan bersifat obyektif dan berani mengakui kesalahannya jika memang penemuannya tersebut menyalahi kodrat. Masyarakat juga seharusnya berpikiran terbuka terhadap penelitian seorang ilmuwan, karena ilmuwan juga memiliki niat baik dalam melaksanakan penelitiaannya. Bahkan ada baiknya lagi ilmuwan dapat menyeimbangkan kenetralan dari ilmu tersebut dengan asas-asas moral meskipun prinsip dari ilmuwan sendiri tidak membenarkan jika ada ilmuwan yang menutup-nutupi penemuannya kendatipun pengaruhnya buruk bagi masyarakat. Jadi, seorang ilmuwan yang mengadakan penelitian harus sanggup menggunakan kebebasannya hanya untuk melakukan kebaikan akan berusaha untuk mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kebahagiaan umat manusia dan memperbaiki taraf hidup manusia. Demikian halnya para penguasa dengan wewenangnya untuk mengambil kebijakan juga harus bertanggung jawab atas pemanfaatan hasil ilmu pengetahuan tersebut sehingga tidak terjadi penyalahgunaan yang pada akhirnya malah akan merugikan manusia.

 

 

 

 



NOTULIS PRAKTIKUM BMI 3

Notulen           : Raila Adnin / I34110028

Judul              : Hasil diskusi kelas praktikum BMI ketiga

Hari/tanggal   : Jumat / 9 Maret 2012

 

 

Moderator                   : Maria M. / I34110002

Notulen                       : 1. Raila Adnin / I34110028

2. Gita / I34110041

Topik                           : Proses Kegiatan Ilmiah

 

Bahan diskusi :

1. Jelaskan perbedaan terminologi ilmu, ilmu pengetahuan dan sains ?

2. Apakah arti penting penalaran dan logika dalam berfikir ilmiah ?

3. Jelaskan berbagai jenis kebenaran !

4. Apakah tujuan pengetahuan ilmu, kelebihan dan keterbatasannya?

5. Bagaimana jika manusia tidak bisa lagi menciptakan simbol lagi ?

Diskusi kelas :

  • Kelompok 1

Notulen : Nafiah k. / I34110031

Penyaji : Latief / I34110005

  • Kelompok 2

Notulen : Fitri Andriani / I34100025

Penyaji : Gita / I34110006

  • Kelompok 3

Notulen : Dwi / I34110012

Penyaji : Nanda / I34110032

  • Kelompok 4

Notulen : Nur khairina / I34110037

Penyaji : Siska / I34110017

  • Kelompok 5

Notulen : Restu Rezky / I34110008

Penyaji : Tiara / I34110035

  • Kelompok 6

Notulen : Kiki / I34110038

Penyaji : Nadia / I34110027

  • Kelompok 7

Notulen : Khalida / I34110009

Penyaji : Fina / I34110014

Kesimpulan diskusi :

Pengetahuan adalah keseluruhan apa yang diketahui oleh manusia. Hal yang membedakan antara ilmu pengetahuan dan pengetahuan adalah ilmu pengetahuan sudah melengkapi kedelapan elemen ilmiah. Sementara sains adalah ilmu untuk ilmu alam / eksak.  Penalaran dan berfikir ilmiah digunakan untuk menarik sebuah kesimpulan ilmiah. Teori kebenaran terbagi menjadi tiga : koherensi, korespondensi dan pragmatis. Koherensi adalah kebenaran yang sesuai dengan pernyataan. Bisa dianggap benar jika kesimpulan sama dengan pernyataan. Korespondensi sendiri adalah pernyataan yang dianggap benar jika sesuai dengan objeknya. Sementara pragmatis bisa dinilai benar jika bermanfaat untuk orang lain.

Kelebihan ilmu pengetahuan adalah dinamis yang artinya selalu berubah. Sementara keterbatasannya juga dinamis. Namun artinya dalam segi keterbatasan ilmu berbeda, yakni ilmu pengetahuan bisa menjadi sempit sehingga tidak bisa menerangkan sesuatunya dan bisa saja seiring berjalannya waktu, suatu ilmu tidak bisa digunakan  karena sudah ditemukan suatu pengetahuan baru yang bisa membantah ilmu sebelumnya. Simbol juga merupakan aspek yang penting bagi berkembangnya ilmu pengetahuan.

Pertanyaan dan Jawaban:

  • Sesi 1

Soal : 1. Indah / I34110034

Diantara tiga teori kebenaran, teori yang manakah yang paling akurat dalam           menentukan kebenaran ?

2. Dwi Tasya / I34110030

Kenapa tujuan dan kelebihan ilmu pengetahuan sama ?

Jawab: 1. Ike / I34110036

Teori Korespondensi

2. Winni / I34110039

Karena tujuan dan kelebihan memiliki keterkaitan.

  • Sesi 2

Soal : 1. Desi / I34110021

Bagaimana cara meminimalisir kekurangan suatu ilmu ?

2. Qoyyimal / I34110025

Apakah ketika kita menarik suatu kesimpulan harus menggunakan logika ?

Jawab: 1. Tasya / I34110030 dan Nerisa / I34110013

Harus mengetahui solusi dari setiap keterbatasan ilmu pengetahuan.            Keterbatasan bisa di minimalisir dengan mempelajari sejarah.

2. Hilmi / I34110010 dan Maria / I34110015

Ya. Karena kesimpulan akan sah jika menggunakan logika dan kesimpulan             itu bisa dinilai benar. Logika juga harus dilengkapi dengan bahan dan         data yang objektif.

 

  • Sesi 3

Soal : 1. Dwi / I34110012

Bagaimana jika simbol yang diciptakan berbeda, apa berpengaruh terhadap             kebenaran ? bagaimana jika menghasilkan suatu kesimpulan yang berbeda ?

2. Latief / I34110005

Apakah terminologi sains bisa dikatakan sebagai terminologi ilmu ?             jelaskan !

Jawab: 1. Tasya / I34110018

Pasti ada, oleh karena itu kita harus mempelajari setiap kebudayaan agar     memiliki kesimpulan makna yang sama.

2. Siska / I34110017

Ya, terminologi sains bisa dikatakan sebagai terminologi ilmu karena           terminologi sains merupakan turunan dari sains.

Sesi tambahan :

  1. Radha / I34110016
  2. Ulfa / I34110026
  3. Aldi / I34110020
  4. Ines / I34100033
  5. Siska / I34110017


PRAKTIKUM 2 BMI

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Dr. Ir. Pudji Mulyono

Nama Asisten             : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 2 Maret 2012

Praktikum ke             : 2

Topik Bahasan          : Berfikir Ilmiah

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Anggota Kelompok   :           1. Rielisa A.P.H (134110004)

                                                2. Romanna Tria Debora Aritonang (I34110011)

                                                3. Khalida N. Adilah (I34110009)

                                                4. Fina Fatihur Rizka (I34110014)

                                                5. Qoyyimal Jauziah (I34110025)

                                                6. Raila Adnin (I34110028)

 

Elemen Berfikir Ilmiah ada 8 yaitu :

  1. Tujuan berfikir ilmiah
  2. Pertanyaan ilmiah (masalah, isu)
  3. Informasi ilmiah, data, fakta, pengamatan, dan pengalaman
  4. Interpretasi dan inferensi ilmiah, kesimpulan, solusi
  5. Konsep, definisi, teori, prinsip, model ilmiah
  6. Asumsi ilmiah, pengandaian, taken for granted
  7. Konsekuensi dan implikasi ilmiah
  8. Pint of  View (kerangka berfikir, perspektif, dan orientasi)

ANALISIS BERITA 1

Menurut kelompok kami, berita bertajuk “Saksi Seret Menpora” telah memenuhi kriteria sebagai tulisan yang memuat ilmu pengetahuan. Hal tersebut karena berita tersebut mencakup beberapa elemen berfikir ilmiah yaitu : 1) Adanya masalah dan isu. 2) Adanya info ilmiah, data, fakta, pengamatan, dan pengalaman. 3) Adanya teori berupa hukum yang digunakan untuk menjerat tersangka. 4)Adanya asumsi ilmiah. 5) Adanya Point Of View.

Berdasarkan pandangan secara obyektif  menurt hasil semnetara dugaan dari pihak KPK, pihak tersebut menyatakan bahwa kemenpora terseret dalam kasus wisma atlet ini.

Berdasarkan pandamgan secara obyektf kemenpora menyatakan bahwa dirinya tidak terlibat dalam kasus korupsi wisma atlit.

 

 

 

PERTANYAAN BERITA  1.

Terkait dengan informasi yang diberikan, mengapa Nazaruddin tidak memenangkan proyek Hambalang dan Wisma Atlit sedangkan pihaknya  telah memberikan uang pelicin kepada “pihak dalam” yang mengatur proyek tersebut yaitu pihak Kemenpora yang tidak lain juga merupakan sahabatnya dalam kader demokrat?

 

ANALISIS BERITA 2.

Menurut kelomok kami, berita bertajuk “ Jembatan ambruk Tujuh Bocah Hanyut” tidak memenuhi kriteria sebagai yulisan yang memuat ilmu pengetahuan karena berita tersebut hanya sekedar bentk publikasi dari sebuah kejadian yang tujuannya untuk menginformasikan fakta-fakta untuk memberikan kebenaran mengenai kasus yang terjadi di Jembatan Cidua, Desa Cibanteng, Bogor. Di sisi lain jika ditinjau dari sisi komunikasi,  dalam berita ini terdapat komunikasi intarpersonal yang dialami bapak Abdul Fatahn dimana ia mendengar suara patahan kayu saat ia berenag di sungai Cihideung.

PERTANYAAN BERITA 2.

Terkait kasus tersebut, apakah tidak ada transparasi dan realisasi mengenai anggaran yang sudah dialokasikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah setempat terkait masalah pembangunan infrastruktur di daerah tersebut?

 

ANALISIS BERITA 3.

Menurut kelompok kami, berita bertajuk “Saksi Seret Menpora” tidak memenuhi kriteria sebagai tulisan yang memuat ilmu pengetahuan karena dari delapan elemen kriteia berfikr ilmiah hanya terdapat fakta dan data yang menyankut kasus tersebut yang perannya hanya sebagai informasi kepada publik untuk diketahui kebenarannya terkait kasus yang melibatkan Jhon Kei.

Berdasarkan pendekatan secara obyektif oleh polisi menilai Jhon Kei terlibat sesuai pasal 340 yaitu pembunuhan berencana. Berdasarkan pendekatan subyektif oleh keluarga Jhon kei dimana mereka menytakan bahwa penagkapan da penjagaan terhadap Jhon Kei itu berlebihan

PERTANYAAN BERITA 3.

Setelah sekian banyak deratan catatan kasus kriminal yang melibatkan John Kei, mengapa polisi baru mengangkat kasus John Kei ke publik?

 

ANALISIS BERITA 4 & 5

Menurut kelompok kami berita yang berjudul “ Septia ditemukan di Rumpit, enam jasad masih dicari” dan berita yang berjudul “ Sulit diidentifikasi kelurga ragu-ragu” saling berkesinambungan. Oleh karana itu kami menggabungkan kedua berita utama itu dalam proses penganalisisan.

Berdasarkan analisa pendekatan secara objektif oleh RSUD, jenazah yang ditemukan di Rumpin adalah jenazah dari Reska Lismanda. Sedangkan pendekatan subjektifnya adalah dari keluarga Nur Fajar Maulida yang menyatakan bahwa itu bukanlah mayat dari Nur Fajar Maulida.

PERTANYAAN  4&5.

Bagaimana proses identifikasi yang dilakukan oleh RSUD sehingga bisa menyimpulkan bahwa mayat itu merupakan mayat dari Nur Fajar Maulida?

 

 

 

 

 



praktikum 1 BMI

Mata Kuliah               : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

Nama Dosen              : Dr. Ir. Pudji Mulyono

Nama AsPrak            : Tiara Anja Kusuma

Hari dan Tanggal      : Jumat, 24 Februari 2012

Praktikum ke             : 1

Topik Bahasan          : Berfikir Ilmiah

Nama Kelompok       : Kelompok 7

Anggota Kelompok   :

Rielisa Apriyanti Putri Hutagaol (I34110004)

Romanna Tria Debora Aritonang (I34110011)

Khalida Nurul Adilah (I34110009)

Fina Fatihur Rizka (I34110014)

Qoyyimal Jauziah (I34110025)

Raila Adnin (I34110028)

Surat Kabar : Radar Bogor

 

 

Headline : Saksi Seret Menpora (Sabtu, 18 Februari 2012)

Pada edisi 18 Februari 2012, Radar Bogor mengangkat topik tentang korupsi proyek Wisma Atlet. Topik ini dibahas karena adanya perkembangan terbaru terkait keterangan yang diberikan oleh saksi yaitu Mahyuddin mengenai keterlibatan Nazaruddin dan anggota kader demokrat lainnya yang terkait kasus korupsi proyek Hambalang dan Wisma Atlet yang hadir dalam persidangan yang diadakan hari jumat, 18 februari 2012. Walaupun masalah ini telah berlarut-larut, tetapi perkembangan kasus ini masih tetap diikuti oleh masyarakat dan menjadi sorotan tajam dikalangan masyrakat. Hal inilah yang melatarbelakangi topik brita ini dijadikan headline karena bisa memperolah perhatian yang lebih dari masyarakat.

Pertanyaan :

  1. Apakah kaitan antara pengakuan yang diberikan antara Mahyuddin dan pengakuan yang diberikan Rosa dalam persidangan ?
  2. Apakah alasan kemenpora memberikan uang sebjumlah 9M kepada Angie?
  3. Apa sebenarnya hubungan antara kasus korupsi proyek Hambalang dan wisma atlet dengan kasus korupsi proyek laboratorium UNJ?
  4. Masalah seperti apa yang sedang terjadi di kubu demokrat ?
  5. Mengapa nazaruddin bisa terlibat dalam pertemuan yang dilakukan antara anggota DPR yang mebawahi olahraga padahal ia tidak ada kaitannya dengan pertemuan tersebut?

 

 

 

Headline : 100 Polisi Lumpuhkan John Kei (Minggu,  19 februari 2012)

Tanggal 19 Februari 2012, topik yang dijadikan Headline oleh Radar Bogor adalah keberhasilan polisi menangkap John Kei, seorang Debt Collector yang selama terlibat dalam beberapa kasus kriminal.

Topik ini dijadikan headline karena dianggap menarik. Polisi akhirnya berhasil menangkap seorang penjahat kelas kakap yang terlibat dalam berbagai kriminal. Kasus kasus tersebut antara lain: salah satu tokoh pemicu konflik antar agama maluku,terlibat dalam kasus pembunuhan mantan Direktur Power Steel Mandiri dan pembunuhan berencana Basri Sangaji (pimpinan mafia Ambon).

Pertanyaan :

  1. Perlukah kondisi kejiwaan John Kei dipertanyakan?
  2. Apakah John Kei ada hubungannya dengan Alba Fuad (artis 1980-an)? Kalau ada, dalam kasus apa?
  3. Apa yang akan dilakukan polisi ke depannya untuk mencegah dan mengatasi munculnya orang orang kriminal seperti John Kei?
  4. Apa hukuman yang akan diberikan polisi kepada John Kei?
  5. Bagaimana pendapat masyarakat (dalam lingkup luas) tentang keberhasilan polisi yang telah menangkap seorang penjahat kelas  kakap?

 

Headline : Jembatan Ambruk, 7 Bocah Hanyut (Senin,  20 februari 2012)

Topik pada edisi 20 februari 2012 adalah tentang amburknya Jembatan Gantung Cikuda, Sungai Cihideung. Jembatan ini menghubungkan antara Kampung Pabuarankaum, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea dengan Kampung Babakan, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga.

Topik ini diangkat sebagai headline karena Radar Bogor merupakan surat kabar yang mengkhususka pengambilan beritanya di lingkup daerah Bogor, sehingga topik ini dianggap paling hangat dan terbaru. Ambruknya Jembatan Gantung Cikuda ini terjadi pada hari Minggu, 19 Februari 2012.

Pertanyaan :

  1. Kapan jembatan ini mulai dibangun?
  2. Apakah sebelumnya sudah pernah ada renovasi yang dilakukan terhadap jembatan tersebut?
  3. Apakah tidak ada perhatian dari pemerintah terhadap Jembatan Gantung Cikuda?
  4. Bagaimana respon Kepala Desa terhadap kasus jembatan ambruk ini?

 

Headline : Septia Ditemukan di Rumpin Enam Jasad Masih Dicari (Selasa, 21 Februari 2012)

 

Topik yang diangkat Radar Bogor hari selasa, masih berkaitan dengan topik hari senin, 20 februari 2012  yaitu membahas tentang ambruknya jembatan gantung cikuda. Radar Bogor memberitakan adanya penemuan jenazah korban hanyut, Septia Rizki (10) oleh anggota Tim SAR bersama warga. Jasad ditemukan pada hari senin, 20 februari 2012 di aliran sungai Cisadane, tepatnya Jembatan Garendong, Kampung Pagutan, RT 05/02, Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, 25 kilometer dari lokasi kejadian.

Adanya perkembangan dari peristiwa ambruknya jembatan membuat surat kabar yang bernotabene di daerah Bogor ini menjadikannya headline.

Pertanyaan :

  1. Mengapa pencarian hanya dipusatkan di tiga lokasi (Jembatan Cidua, Jembatan Rancabungur, Jembatan Garendong) ?
  2. Berapa jumlah personil yang akan dikerahkan jika penyelaman sudah bisa dilakukan ?
  3. Apa reaksi keluarga, pada saat jenazah alm. Septia Rizki ditemukan ?
  4. Jenis bantuan apa saja yang diberikan oleh pemerintah terhadap korban ?

 

Headline : Sulit Diidentifikasi, Keluarga Ragu-ragu  (Rabu, 22 februari 2012)

            Tanggal 22 Februari 2012, topik yang dijadikan Headline oleh Radar Bogor adalah ditemukannya kembali 2 jasad korban hanyut dalam insiden ambruknya Jembatan Cidua di Kampung Pabuarankaum, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea.

Topik ini dijadikan headline karena jerih payah Tim SAR Gabungan untuk menemukan seluruh jasad korban hanyut dalam insiden ambruknya Jembatan Cidua tersebut menuai hasil. Dua jasad korban hanyut telah ditemukan lagi kemarin. Tetapi sempat ada kontroversi karena keragu-raguan dari pihak keluarga korban saat jasad korban hanyut ditemukan.

Pertanyaan :

  1. Apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap keluarga korban hanyut dalam insiden ambruknya Jembatan Cidua?
  2. Langkah apa saja yang akan diambil pemerintah setelah terjadi insiden ambruknya Jembatan Cidua?
  3. Bagaimana warga setempat menyikapi ambruknya Jembatan Cidua?
  4. Apa yang bisa menyebabkan Jembatan Cidua tersebut ambruk?

 



sebelah kanan



Everything can wait – not agriculture !

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
Indonesia merupakan kepulauan terbanyak di dunia. Tercatat sumatera, kalimantan dan papua merupakan pulau terbesar di dunia. Indonesia juga merupakan negara maritim terbesar. Terumbu karang yang kita miliki adalah yang terkaya. Diakui sebagai Indonesia mega biodeversity. Juga merupakan penghasil kakao dan produsen karet alam dunia.
Namun kenyataanya Indonesia dengan kekayaan alam yang sedemikian, belum mampu mengelola dengan baik kekayaan alam tersebut. Contohnya saja Masalah lahan pertanian di Indonesia :
1. Luas Pemilikan Lahan Petani Sempit, Sehingga Sulit Untuk Menyangga Kehidupan Keluarga Tani.
2. Produktivitas LahanMenurun Akibat Intensifikasi Berlebihan dan Penggunaan Pupuk Kimia Secara TerusMenerus
3. Alih Fungsi Lahan Produktif ke Industri Akibat Kebijakan
4. BelumOptimalnya Implementasi Pemetaan Komoditas Terkait dengan AgroekosistemLahan
5. MasihBanyak Lahan Tidur
Berdasarkan artikel yang saya baca, berikut adalah solusi dari permasalahan tersebut :
1. Pembangunan Agroindustri di Pedesaan dalam Upaya Merasionalisasi Jumlah Petani
Dengan Lahan yang Ekonomis
2. Penggalakkan SistemPertanian Yang Berbasis pada Konservasi Lahan
3. Dikembangkan SistemPertanian Ramah Lingkungan (Organik)
4. Perencanaan dan Implementasi RTRW yang Konsisten
5. Pemanfaatan Lahan Tidur untuk Pemberdayaan Masyarakat

Banyak hal lagi jika kita ingin membicarakan masalah pertanian di Indonesia, tapi jika kita hanya membicarakannya saja tanpa bertindak akan terasa seperti tong kosong nyaring bunyinya. “everything can wait-not agriculture” adalah kata bijak dari Pandit Jawaharlal Nehru. Begitu seriusnya masalah pertanian ini sehingga tidak bisa ditunggu lagi.

Kita mahasiswa/mahasiswi terbaik bangsa yang ada di IPB adalah jawaban atas masalah yang terjadi. Mahasiswa adalah lambang perubahan, lambang harapan. Karena jika bukan kita, siapa yang akan mmbangkitkan negeri ini ? kita harus tetap menjadi tuan dirumah kita sendiri, di negeri kita sendiri, INDONESIA. Jangan lagi kita bertopang dagu pada negara lain. Indonesia harus bersungguh-sungguh berketetapan hati untuk tidak lelah mencari ilmu dan kebenaran.



KONDISI PERTANIAN DI BEKASI

oleh :RAILA ADNIN
nim : I34110028
laskar 8 garda 2

Secara administratif Kabupaten Bekasi termasuk salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta. Mempunyai luas 127.388 Ha, yang terbagi menjadi 23 kecamatan dan 187 desa dengan batas-batas wilayah, sebelah barat berbatasan dengan Kota Bekasi dan DKI Jakarta, sebelah timur dengan Kabupaten Karawang, sebelah utara dengan laut Jawa, sebelah selatan dengan Kabupaten Bogor.
Kondisi Kabupaten Bekasi merupakan daerah pertanian, industri, perdagangan dan jasa. Bekasi juga dibagi dalam 4 (empat) wilayah pengembangan, yaitu :
1. Wilayah Pengembangan (WP) I merupakan kawasan pengembangan khusus Pantura, diatur secara khusus dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 5 Tahun 2003. karakter WP I adalah kota baru dengan sebutan Kota Baru Pantai Makmur seluas 25.028 Ha yang meliputi Kecamatan : Babelan, Tarumajaya dan Muaragembong yang peruntukannya meliputi pengembangan permukiman, perdagangan dan jasa, pelabuhan (pergudangan/ terminal peti kemas), industri dan pariwisata.
2. Wilayah Pengembangan (WP) II adalah wilayah bagian timur Kabupaten Bekasi yang mempunyai karakter untuk memproduksi hasil-hasil pertanian seluas 47.020 Ha, meliputi Kecamatan : Cabangbungin, Tambelang, Pebayuran, Sukatani, Karangbahagia dan Kedungwaringin.
3. Wilayah Pengembangan (WP) III adalah wilayah bagian tengah koridor timur barat Kabupaten Bekasi yang mempunyai karakter perkotaan dengan dominasi permukiman, perdagangan dan jasa, industri dan pemerintahan seluas 36.625 Ha, meliputi Kecamatan : Tambun Selatan, Cibitung, Cikarang Barat, Cikarang Timur, Cikarang Utara, Cikarang Pusat dan Kedungwaringin.
4. Wilayah Pengembangan (WP) IV adalah wilayah bagian selatan Kabupaten Bekasi yang mempunyai karakater untuk konservasi dan permukiman, pengembangan pertanian holtikultura serta pariwisata seluas 17.014 Ha, meliputi Kecamatan : Stu, Serang Baru, Cibarusah dan Bojongmangu.
Sebagian pengusaha di WP II (Narogong, Bekasi Timur) memanfaatkan lahannya dengan membuka areal pemancingan yang nantinya bisa dijadikan sebagai pemasukan bagi pendapatan daerah, pemancingan ini tentu saja berada di sektor perikanan. Contoh ikan yang biasanya terdapat di pemancingan ini antara lain gurame, ikan mas, lele dan patin. Ada juga pengusaha-pengusaha kecil yang bergelut di bidang perternakan. Seperti ternak kambing dan ayam.
Sukatani merupakan daerah penghasil padi Kabupaten Bekasi. Namun tidak terdengar menggembirakan karena di Kecamatan Pebayuran misalnya, dari 9 desa yang ada di kecamatan berbatasan dengan Karawang ini, ada 19 titik pintu dan saluran air yang nyaris tak berfungsi. Akibatnya saluran air tak bisa mengairi sawah, dan di musim hujan, menimbulkan banjir di hamparan sawah.



Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!